
Play/Download
Sambungan dari bagian 01
Tubuh mulus putih itu kini menggelinjang-gelinjang di pangkuan Ari,
sentuhan tangan Ari tidak hanya terbatas itu saja dan pada suatu
kesempatan telunjuknya masuk ke lubang vagina Shinta dan di
tusuk-tusukan lembut. "Uuugghh.. oogghh.. oogghh.. Arr.. aaghh.. tusuk
teruss.. sshh.. Arr.." pinta Shinta terbata-bata memelas. Matanya merem
melek, kedua bibirnnya terbuka mendesis, mendesah dan kedua pahanya ia
buka lebar-lebar menikmati sensasi yang ada. Tangannya mecoba menggapai
karpet untuk diremas karena ia menahan rasa ngilu, geli dan nikmat
bercampur jadi satu karena permainan dua jari Ari. Kepalanya terlihat
sesekali terangkat tak kuat menahan sensasi dua jari dari Ari. Shinta
lalu melipat lututnya dan membuka lebar-lebar agar tangan Ari mampu
membuatnya menggapai orgasme yang dirindukannya. Tubuhnya semakin
bergelinjang hebat dan kini tangan Shinta mulai merangsek celana pendek
Ari, kemudian dilemparkannya sembarangan lalu tangannya terlihat
menelusup ke dalam CD Ari. Ari tampaknya terengah juga mendapat
perlakuan seperti itu, apalagi dalam sekejap Shinta sudah melepas CD Ari
dan melumat batang pejal nan hangat itu.
"Aaakkhh.." pekik Ari saat Shinta mulai mengulum "topi baja" penisnya.
Sensasi yang ditimbulkan akibat lingkaran kepala penis itu membuat Ari
tegang dan sejenak ia melepaskan kuluman di puting Shinta. "Sesshh..
ookhh.. Arr.." Shinta hanya bisa merintih saat Ari mulai merebahkan
dirinya dan mengatur posisi Shinta di atas. Shinta berdiri merangkak
dengan lutut kirinya sementara lutut kanannya tetap tegak bagi orang
jongkok. Posisi demikian adalah posisi bagus untuk melakukan seks 69
karena dengan begitu selangkangan Shinta mengangkang maksimal dan
vaginanya terlihat merekah pink. Dengan lahap Ari mulai mematukkan ujung
lidahnya tepat di klitoris Shinta sehingga membuat Shinta kelonjotan,
sementara kedua jari telunjuk dan tengahnya membuka, sesekali menggosok
lembut bibir luar vagina Shinta. Si pemilik lubang hanya mampu mendesah
saat lendirnya mulai melumasi lubang kenikmatan miliknya dan memberikan
rasa geli yang amat nikmat.
"Aaaoogghh.. emmpphh.. sedoth teruss Arr.." desah Shinta ketika Ari
mulai menghisap lembut bibir dalamnya dan dilain bagian tangan Shinta
juga mulai melakukan pekerjaannya mengocok, kadang membelai lembut
batang hangat milik Ari. Ari hanya bisa merasakan sedikit asin saat mani
Shinta mulai meleleh sedikit demi sedikit dan dihisapnya hingga terasa
kesat bagi Shinta.Shinta sendiri rupanya dendam dengan orgasme karena si
Sony ternyata hanya ayam sayur dimata Shinta.
Kocokan Shinta di penis Ari sebaliknya tidak terasa nikmat bagi Ari
karena Shinta kocokannya tak karuan alias ngawur. Shinta hanya
konsentrasi menggapai nikmatnya orgasme dengan mulut Ari dengan gelitik
kumisnya. Gelitik kumis Ari di lembah antara bibir luar dan bibir dalam
membuat Shinta semakin erat mencengkeram penis Ari dan karpet.
"Ooouugghh.. aakkhh.. aakkhh.. Arr.. oogghh.. kumismu.. gelii.. aaghh..
aahh.. aahh.. aku.. keluaarr.." ceracau Shinta tak karuan, pinggulnya
dihempaskan ke belakang menekan wajah Ari, tubuhnya mendongak melepas
cengkeraman tangannya di penis Ari. Wajahnya mendongak ekspresif,
matanya merem melek, kedua tangannya terlihat meremas rambutnya, kedua
bibirnya terbuka lebar dan mendesis kenikmatan. Lidahnya menjilat
bergantian di kedua lapis bibirnya menjulur tak peduli suaranya memekik
memenuhi ruang itu.
Ari masih terlihat menjilat sisa-sisa lelehan mani Shinta yang masih
terlihat meleleh di bibir luar lubang vaginanya hingga kesat dan Ari
telah mempersiapkan jurus kedua bagi Shinta.Ari kelihatan puas membuat
Shinta kelonjotan. "Oogghh.. ooghh.. makasih Arr.. emmpphh.." Shinta
masih terengah kelelahan.
Perlahan Ari membalikkan tubuh langsing Shinta dan kemudian menggotongnya.
"Mau kemana Yang?" tanya Shinta manja dan masih terlihat sisa-sisa
orgasme pertamanya namun Shinta tidak protes sebagai tanda tidak
kesetujuannya.
Dalam bopongannya Shinta mencoba meraih bibir Ari dan mengulumnya.
"Heemmhh.. Yang.. aku.. pasti akan kau buat puas malam ini," bisik Shinta.
Kedua tangannya tetap dililitkan di leher Ari, saat Ari mulai
menyandarkan tubuh indah kebanggaannya di sofa panjang. Shinta hanya
terlihat pasrah apa yang diperbuat Ari yang kini beringsut mengambil
dacron kecil dan diselipkannya di bawah pantat Shinta. Shinta sadar
bahwa ia hanya ingin menjadi obyek untuk beberapa kali tempo foreplay
ini maka dari itu ia hanya pasrah apa yang akan diperbuat Ari padanya.
Ari berlutut dan sejenak memandangi vagina Shinta yang terlihat tambah
mencuat dan merekah karena pengaruh ganjalan dacron kecil di pantatnya.
Klitorisnya semakin kelihatan menonjol kenyal karena terangsang hebat.
Ari melipat kedua lutut Shinta dan meletakkan kakinya bertumpu pada sofa
sehingga kelihatan seperti jongkok lalu mengisyaratkan Shinta untuk
membuka lebar-lebar. Shinta hanya terpejam dan mendesis lembut saat Ari
mulai mencumbui lubang vaginanya.
"Hemmhh.. vaginamu..harum.. Shin.. dann.. emmhh.." puji Ari yang masih
terlihat sibuk dengan hisapan dan kuluman di selangkangan Shinta.
"Oookhh.. hisapanmu.. aakhh.. Ari sayaangg.." rengek Shinta panjang saat
Ari mulai membuka bibir luar vagina Shinta dan menghisap bibir
dalamnya.
"Aduuhh.. aahhgghh.. aahhkk.. aakkhh.. uughghh.. ngg.. emmpphh.." Shinta mulai mengigil lagi.
"Ooohhkkhh.. aakkhh.." pekik Shinta tertahan saat tiba-tiba Ari
merebahkan tubuhnya dan kembali mengangkat ke tepi sofa. Pantat seksi
Shinta diletakkan di sandaran tangan sisi sofa tersebut dan kedua
lututnya tetap terlipat dan pahanya mengangkang lebar.
"Uuugghh.. Arr.. mau diapain guee.." tanya Shinta lemah. Tubuhnya
tergolek indah dan pinggulnya terangkat tinggi di sandaran tangan sisi
sofa. Ari tergopoh-gopoh ke sisi pinggul Shinta di sisi sofa dan ia
berlutut di sana, tangan kirinya mulai meremas lembut dada Shinta yang
kenyal. "Oookhhk.. Yaanngg.. aakhh.. ookhh.. nikmathnyaa.. aahhgghh.."
desah Shinta merasakan kecupan bibir Ari di labia minoranya. Sensasi
akibat gelitikan kumis Ari dan pilinan tangan kiri Ari di puting
kanannya membuatnya teregah-engah. Terlihat Shinta mulai meremas sendiri
payudara kirinya, wajahnya tegang memerah menahan birahi yang amat
sangat mendesak untuk disemburkan.
"Aaakhh.. aahhgg.. oohhgg.. oohh.. Arr.. aku mau keluaarr.. nikmatt.."
pekik Shinta saat kecupan bibir Ari mulai menggesek lembut lemah
vaginanya. Bibir dalam vaginanya terhisap lembut namun terasa kuat dan
dahsyat, lubang vaginanya juga terasa penuh gerigi lembut lidah Ari yang
menyusup ke sana. Vagina Shinta seperti menetek ke lidah Ari, sementara
lidah Ari mulai menjulur keluar masuk di vagina Shinta.
"Akuu.. kelluuarr.. Arr.. aaggh.. sshh.. aaghh.. aaghh.. uugghh.. sshh..
ooh my god.. nikmath banget.." Shinta terpekik keras saat Ari menghisap
dalam dan mengapit kedua bibir dalam vagina Shinta dengan kedua
bibirnya sementara lidah Ari dijulurkan maksimal ke dalam lubang
rahimnya dan mengaduk aduk G-spot Shinta.
"Arr.. aku nggak tahaann.. nngghh.. aakgghh.. oohh.. Arii.. mmpphh.."
ruangan itu kini penuh dengan desahan histeris Shinta. Shinta sudah
tidak mempedulikan Ari lagi dan ia hanya ingin segera dapat menyemburkan
maninya banyak-banyak agar tubuhnya terasa ringan dan lega."Aaahh..
Arr.. Aku keluarr.. ooghh.. laagii.. aawww.. aaghh.." pekik Shinta
mengakhiri orgasmenya yang entah keberapa. Tubuhnya kelonjotan,
bergelinjang-gelinjang kenikmatan. Ari sendiri sebenarnya sudah
merasakan orgasme saat Shinta menikmati permainan oralnya, lubang
penisnya terlihat meleleh cairan bening. Ari masih mengulang-ulang
permainan mulutnya di vagina Shinta kali ini ia berdiri merangkak
mengangkangi Shinta.
"Arr.. udah doongg.. ayoo masukiinn.." rengek Shinta.
"Mmmpphh.. semakin harum saja lubangmu Shin, apalagi cairanmu ini.."
kata Ari seraya membenamkan kembali wajahnya di lubang Shinta.
"Sluurrphh.. Sluurrphh.." suara lidah Ari kenikmatan.
"Aaawww.. aawww.. uugghh.. aa.. Arr.. Pleasee.. masukin.. cepet.." rengek Shinta lagi.
Rupanya Shinta sudah tidak kuat menahan geli yang amat sangat dari
permainan lidah Ari apalagi kalau dihisap bibir dalamnya terasa
ubun-ubunnya ikut terhisap. Shinta sudah hampir tak punya tenaga lagi
terasa terkuras bersama semburan maninya berkali-kali.
Ari kemudian membimbing Shinta bersandar di sofa lalu memberikan french
kiss yang lembut berdiri dengan lututnya, cukup lama kedua insan itu
bercumbu. Ada sensasi lain yang ia rasakan selain nafsu dan kini hatinya
sedikit gundah.
"Ar! makasih yach, permainanmu memang hebat.." puji Shinta.
"Maukah kamu." imbuh Shinta.
"Ssstt.. nggak perlu dilanjutin aku tahu kok apa yang kamu akan ucapkan,
lagian permainanku kan belum puncak.." sergah Ari sambil menempelksn
telunjuk kanannya di bibir Shinta.
Kedua insan itu lantas terdiam kemudian saling membisu.
"Shin, maukah kamu menjadi kekasihku, lebih dari apa yang kita lakukan
sekarang..?" tanya Ari sembari melepas kecupan di kening Shinta memecah
kesunyian.
Rupanya diam-diam Ari terpesona dengan ekspresi Shinta, demikian Shinta
takluk di lutut Ari. Ari kemudian teringat Sri pacarnya yang ia pacari
hampir 1 tahun lalu dimana Sri hampir tidak pernah mau dengan permainan
oral Ari. Sri sendiri tidak begitu antusias dengan seks dan hal ini
tidak seimbang dengan hasrat Ari.
"Ar! kamu udah tahu semua tentangku kan? dan aku tidak mau mengecewakan kamu." kata Shinta.
"Apa pun itu Shin aku menerimanya, aku juga bukan orang yang suci." balas Ari datar.
"Lagian kamu orangnya hebat, nafsunya hot dan yang paling aku suka adalah keenam bibirmu," puji Ari."Enam..?" Shinta penasaran.
"Iya emang kamu nggak merasa.. apa?" tanya Ari sambil menenggak jahe
gingsengnya yang kini sudah mulai digin. Shinta masih tampak kebingungan
dengan maksud Ari. Kemudian Ari mengambil tempat duduk di sebelah kiri
Shinta lalu mengambil kedua paha Shinta dan ditempatkan di pahanya.
Tangan kanannya merengkuh tengkuk Shinta yang kini tergolek di
pelukannya.
"Aku suka tubuhmu yang indah Shin.. tinggi, pinggulmu panjang, bibirmu
yang tebal ini mengingatkan aku seperti milik Titi DJ, pantatmu padat
berisi apalagi ini.." puji Ari seraya mengulum puting Shinta.
"Emmpphh.." sedang tapi kenyal bukan main.
"Ditambah dengan ini.. keempat bibir bawahmu yang tebal lembut dan harum terawat," puji Ari tak henti-hentinya.
Shinta semakin melambung ke awan dengan pujian dan rayuan Ari, kini
aliran darahnya mulai mengalir deras kembali dan hangat terasa di bagian
bawah pori-porinya. Tubuhnya terasa haus pelukan lagi menandakan
gairahnya terbakar lagi. Ari masih terlihat menjilat, mengulum seluruh
bagian kepala Shinta, penisnya terlihat sedikit mengendor. Ari tahu
bahwa Shinta mulai horny lagi dan kini ia meningkatkan tempo
pemanasannya.
"Uuugghh.. aagghh.. aagghh.. Arr.. aku mau lagi, Yang!" rengek Shinta lagi.
"Kita ke kolam renang yuk.." ajak Ari, kemudian dalam sekejap Shinta sudah dalam bopongan Ari.
Keduanya terlihat mencebur kolam bersamaan. Ari dan Shinta berenang
telanjang bersama dan sesekali bercumbu mesra. Lima belas menit kemudian
naik ketepian dan berjalan ke arah tembusan pintu dapur.
"Bik Ijaahh.. temenin aku doongg.. pakai tuh baju renangku di kamar mandi.." teriak Shinta keras sambil mengetok pintu.
"Tapi Shin.." sergah Ari.
"Ar, rasanya aku nggak kuat dech meladeni nafsu kamu yang.." Shinta mencoba menghentikan perkataannya seraya mendekat ke Ari.
"Iya Neng Shinta.." sahut Bik Ijah dari dalam.
Setengah menit kemudian Ijah keluar dan sudah mengenakan pakaian renang milik Shinta dan handuk dililitkan di pinggulnya.
"Wow kalo begini ini sich bukan pembatu tapi pantas jadi nyonya rumah.." guman Ari.
"Tubuhnya sintal, dadanya menggunung 36B, kulitnya kuning mulus,
pantatnya.. wow sungguh pemandangan indah.." Ari masih terkagum pada
penampilan Bik Ijah.
"Hush.. jangan bengong.. aku duluan.." protes Shinta memecah lamunan Ari.
Kemudian Bik Ijah menceburkan diri ke kolam renang lalu berenang sepuas
hatinya. Di sisi kolam Ari dan Shinta mulai bercumbu, Shinta mengapitkan
kedua pahanya di pinggul Ari karena kurang tinggi. Ari bersandar di
tepian kolam dan mencumbui leher dan bibir Shinta bergantian."Emmhh..
oogghh.. aagghh.. Arr.. shhss.." desah Shinta memulai permainannya. Ijah
mendekat ke arah Ari dan Shinta dan mengambil tempat di belakang
Shinta, Ia membantu mengikat rambut Shinta. Kemudian Ijah perlahan
melepas pakaian renangnya dan menempelkan dada motoknya di punggung
Shinta.
"Ooohh.. hangat.. tetekmu.. Biik.. oohh nikmat Ar.." Shinta terbata.
Ijah kemudian menggosok dan sesekali menekan sambil diputar payudaranya
di punggung Shinta secara teratur.
"Emmphh.. aakhh.. aagghh.. sshh.. nngghh.. Ohh Arii.. lidahmu.. gelii..
oogghgh.. Ijah.. Ijahh.. oogghh.. tetekmu.. ooghh putingmu gelii.."
ceracau Shinta tak karuan.
Ari melepaskan satu tangannya dari bokong Shinta dan melesak ke selangkangan Shinta.
"Aawww.. uughh.. pelan-pelan Arr.." Shita kesakitan karena Ari sedikit kasar tadi.
"Ar! penismu udah tegang.. masukin yach," rajuk Shinta lalu merapatkan
kedua dadanya ke dada Ari dan menggeser ke belakang pinggulnya.
Sedetik kemudian..
"Slerrpphh.." dan, "Aaagghh.. aagghh.. oohh.. penismu panjang, Yang.." desah Shinta yang kemudian menggoyang pinggulnya pelan.
"Emmpphh.. oohh.. Arr.. nikmat Sayangg.." Shinta merem melek. Sensasi
yang ia rasakan adalah kehangatan diantara dua tubuh dan sensasi pijatan
air akibat gerakan maju mundurnya.Shinta masih bergelayut di pundak
Ari, wajahnya expresif miring ke kiri sementara Ari melingkarkan
lengannya di tubuh kedua wanita itu. Ari memainkan lidahnya di rongga
Ijah untuk mencumbui wanita bahenol itu dan tampaknya Ijah sudah sangat
terangsang. Permainan mulutnya sangat lembut dan penuh birahi, wajahnya
memerah menahan birahinya.
"Mmmpphh.. Mass Arii.. ookhh.." desah Ijah.
"Biik puter lagi putingmu.. cepeeth.. aaughh.. aku.. aakk.. takk..
kuuwww.." Ijah tidak menjawab namun kedua putingnya ditekan keras lalu
diputarnya, kedua tangannya memilin dan meremas payudara Shinta. Ari
sendiri melepaskan kedua sanggahan tangannya di pantat Shinta karena
Shinta sudah mempererat himpitan kedua pahanya di pinggangnya. Tangan
Ari lalu menjelajahi pantat Ijah kemudian membukanya dan mulai permainan
kedua telunjuknya di area antara vagina dan pantat Ijah. Telunjuknya ia
gosokkan pelan dari arah belakang. "Ssshh.. oohh.. Mass.. sshh.. Arii..
tusuk lebih dalaam Mass.." Ijah mulai menggigil.
"Arr.. aawww.. aawww.. eengghh.. oogghh.. Aku keluaarr.. aahh.. aahh..
aahh.. oogghh.. ouughh.. sshh.. Arii.. aku gellii.." Shinta lalu
mencabut gigitan vaginanya karena geli menahan orgasmenya kali ini. Ia
mendorong kuat-kuat kedua kakinya ke dinding kolam sampai Ijah terhempas
ke belakang dan gelagapan.
Kemudian Shinta berenang ke tepian, berjalan mengambil handuk lalu duduk
di kursi menenggak jamu bikinan Ijah. "Maaf Bik, aku tadi ngilu
banget.. sekarang milikmu.." Ari sejak tadi hanya terdiam karena
spermanya sebetulnya tadi ingin segera ia semprotkan ke rahim Shinta
kini tertunda. Akan tetapi kekecewaannya terobati setelah Ijah
mendekatinya lalu mengajaknya ke tepian kolam. Ijah memposisikan dirinya
doggy style kesukaannya dan dari sisi kolam yang dangkal Ari
menghujamkan 16 cm penisnya keras-keras ke vagina Ijah. Ijah sendiri
sebetulnya suka seks gaya sedikit keras dan tampaknya ia menikmati
kocokan Ari.
Kocokan demi kocokan Ijah terus melenguh, mendesah, kadang menghempaskan
tubuhnya menahan geli akan tetapi Ari kali ini tidak mau melepaskan
mangsanya begitu saja, ia mencengkeram pinggul Ijah erat membuat Ijah
semakin kelonjotan berteriak-teriak kegelian bercampur nikmat yang amat
sangat. "Mass.. Arrii.. akuu.. aaghh.. aaghh.. aaghh.. oohh.. mauu..
lagii.." teriak Ijah panjang. Ari mekin keras menghujamkan penisnya ke
dalam rahim Ijah dan semenit kemudian Ari dan Ijah berteriak keras
bersamaan melepas semua beban birahinya. Shinta hanya tersenyum
kelelahan di kursi sana lalu menawarkan minuman penghangat bagi Ari dan
Ijah. Malam bergulir seiring dengan desahan manusia yang haus seks di
rumah itupun mengiringi datangnya sang fajar.
Seminggu setelah kejadian itu, Ari putus dengan Sri dan resmi menjadi
pacar Shinta dan rasanya mereka cocok dalam hal seks. Beribu macam gaya
telah mereka lakukan untuk meraih kepuasan birahinya. Ijah sendiri
kemudian menjadi wanita panggilan papan atas, atas saran Shinta daripada
hanya sebagai pembantu.
TAMAT